Gonjang Ganjing Bumi Ngayojokarto Hadiningkrat

Setajam tajamnya pedang masih lebih tajam lidah.

Begitulah pepatah bijak mengatakan, dan begitu pula yang saat ini terjadi dengan kontradiksi antara pemerintah pusat dengan masyarakat jogja yang simbolik dan kental tradisi Jawa. Atas nama demokrasi kehendak pemerintah pusat dipaksakan kepada masyarakt jogja yang sudah jauh lebih lama hidup dengan tradisi kratonnya daripada umur Republik ini.

Keistimewaan Jogja terletak pada sultannya. Dan karena kerendahan hati Sultan Hamengkubuwono IX lah Jogja siap bergabung dengan NKRI dan merelakan tanahnya sebagai cawan yang menumbuhkan NKRI yang baru merdeka. Jika waktu itu Sultan memilih merdeka pun bukan hal yang sulit, karena sebenarnya Jogja adalah sebuah negeri tersendiri pada waktu itu.

Tapi itulah simbolik Jawa yang santun. Dan Sidang rakyat kemarin (13 Desember 2010) di Jogja pun dapat berlangsung aman dan tertib tanpa konflik fisik. Inilah yang seharusnya dicontoh oleh kita semua. dan Pemerintah pun harus punya malu dengna Jogja karena sejarahnya.

Demokrasi hanyalah jalan untuk menuju kesejahteraan rakyat, dan bagaimana demokrasi akan dipaksakan bila rakyat itu sendiri tidak berkehendak ? jadi untuk apa demokrasi itu ?

About Subandi Bagelen
Lahir di Hargorojo, sebuah desa di daerah pegunungan tenggara Kota Purworejo. Buat yang mau kenal lebih jauh silahkan add di http://www.facebook.com/banditoz atau http://twitter.com/bandi_e

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: